LOGIKA & PEMBUKTIAN
MATEMATIKA
Pendahuluan
Secara etimologis, logika ← logos (yunani):
kata, ucapan,fikiran secara utuh,
ilmu
pengetahuan.
Mengapa mempelajari logika?
Logika →
penalaran: penarikan kesimpulan
dalam sebah argumen.
Pengertian
Pernyataan (preposisi)
Kalimat
deklaratif yang bernilai benar
atau salah, tapi
tidak keduanya.
Pernyataan biasanya dinotasikan
dengan p.
1.Manila adalah ibukota negara
Thailand.
2.5 x 12 = 90
3.Jawablah pertanyaan di bawah
ini!
4.Hari ini adalah jumat.
6. Jam berapa sekarang?
7. X + y = z.
8. Semua kelelawar adalah hewan
menyusui.
Operasi uner
Nilai kebenaran negasi sebuah
pernyataan
adalah kebalikan dari nilai
kebenaran
yang dimiliki oleh pernyataannya.
Contoh:
1.4 + 4 = 16.
2.x
2>0, x ЄR.
Pembuktian
melalui kontradiksi
Dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas
Pembuktian
melalui kontradiksi
(bahasa Latin:
reductio ad absurdum, 'reduksi ke yang absurd', bahasa
Inggris: proof by contradiction, 'bukti oleh
kontradiksi'), adalah argumen logika yang
dimulai dengan suatu asumsi, lalu dari asumsi tersebut diturunkan suatu hasil
yang absurd, tidak masuk akal, atau kontradiktif, sehingga
dapat diambil kesimpulan bahwa asumsi tadi adalah salah (dan ingkarannya benar). Dalam
disiplin matematika
dan logika,
pembuktian melalui kontradiksi merujuk secara khusus kepada argumen dimana
sebuah kontradiksi dihasilkan dari suatu asumsi (sehingga membuktikan asumsi
tadi salah)
Argumen
ini menggunakan hukum non-kontradiksi - yaitu suatu
pernyataan tidak mungkin benar dan salah sekaligus. Frase Latin reductio ad
absurdum
berasal dari frasi Yunani ἡ εἰς ἄτοπον ἀπαγωγή yang berarti sama,
digunakan oleh filsuf Aristoteles.
Penjelasan
Dalam
disiplin logika
formal, pembuktian melalui kontradiksi digunakan ketika sebuah kontradiksi
(formal) dapat dihasilkan dari suatu premis, sehingga dapat
disimpulkan bahwa premis tersebut salah. Jika kontradiksi tersebut dihasilkan
dari beberapa (lebih dari satu) premis, kesimpulannya adalah satu atau lebih
dari premis tersebut adalah salah. Dalam kasus terakhir, metode lain harus
digunakan untuk membuktikan premis mana saja yang salah.
Suatu
pernyataan matematis
kadang-kadang dibuktikan dengan cara pembuktian melalui kontradiksi, dengan
cara mengasumsikan ingkaran (negasi) dari
pernyataan yang hendak dibuktikan, lalu dari asumsi ini diturunkan sebuah
kontradiksi. Ketika kontradiksi dapat dicapai secara logika, asumsi tadi telah
terbukti salah, sehingga pernyataan tersebut benar.
Pembuktian
melalui kontradiksi atau reductio ad absurdum bukanlah sebuah argumen
yang salah, sebaliknya jika dilakukan dengan benar merupakan argumen yang sah.
Jika pembuktian melalui kontradiksi menghasilkan kesalahan, kesalahan tersebut
terletak pada kesalahan pada proses penurunan kontradiksi, bukan pada cara
pembuktiannya.
Contoh
Contoh
klasik pembuktian melalui kontradiksi pada zaman Yunani Kuno adalah pembuktian
bahwa akar kuadrat dari dua
merupakan bilangan irasional (tidak bisa dinyatakan
sebagai perbandingan bilangan bulat). Pernyataan ini dapat
dibuktikan dengan cara mengasumsikan sebaliknya bahwa √2 adalah bilangan rasional,
sehingga bisa dinyatakan sebagai perbandingan bilangan
bulat a/b dalam pecahan yang paling sederhana. Tapi
jika a/b = √2, maka a2 = 2b2.
Ini berarti a2 adalah bilangan genap. Karena kuadrat
dari bilangan ganjil tidak
mungkin genap, maka a adalah bilangan genap. Karena a/b
adalah pecahan paling sederhana b pastilah ganjil (sebab pecahan
genap/genap masih bisa disederhanakan). Namun karena a adalah bilangan
genap (anggap 2r artinya a2 (4r2)
adalah bilangan kelipatan 4, dan b2 adalah bilangan kelipatan
2 (genap). Hal ini berarti b juga merupakan bilangan genap, dan ini
merupakan kontradiksi terhadap kesimpulan sebelumnya bahwa b pastilah
ganjil. Karena asumsi awal bahwa √2 adalah rasional mengakibatkan terjadinya
kontradiksi, asumsi tersebut pastilah salah, dan ingkarannya (bahwa √2 adalah
irasional) merupakan pernyataan yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar